neuroscience tentang hormon oksitosin
peran kepercayaan dalam membangun peluang kolaborasi
Pernahkah kita menyadari betapa anehnya rutinitas kita sehari-hari?
Kita memesan kopi dari seseorang yang tidak kita kenal. Kita mentransfer sejumlah uang kepada orang asing di internet, hanya dengan bermodalkan keyakinan bahwa barang yang kita beli akan dikirim. Kita menjabat tangan rekan kerja baru dan sepakat untuk membagi tugas.
Secara logika murni, ini sebenarnya tindakan yang sangat berisiko. Kita adalah makhluk primata yang rapuh. Dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Lalu, mengapa kita begitu mudah menyerahkan sebagian nasib kita ke tangan orang lain?
Jawabannya bukanlah karena kita naif. Jawabannya bersembunyi di balik sebuah molekul kecil di dalam otak kita. Sebuah zat kimia yang secara diam-diam menjadi arsitek dari semua peradaban manusia.
Mari kita bongkar rahasia ini bersama-sama.
Untuk memahami keanehan ini, teman-teman, kita harus melihat sejenak ke masa lalu.
Nenek moyang kita, Homo sapiens, bukanlah makhluk terkuat di padang sabana. Kita tidak punya taring tajam. Kulit kita tipis. Kita tidak bisa berlari secepat cheetah. Namun, kita berhasil bertahan hidup, bahkan menguasai dunia. Bagaimana caranya?
Kuncinya ada pada satu hal: kolaborasi. Kita berburu bersama. Kita membangun tempat berlindung bersama.
Namun, kolaborasi selalu membawa dilema fatal. Mempercayai orang yang salah bisa berarti kematian. Bayangkan jika kita sedang berburu mamut, dan rekan kita tiba-tiba lari ketakutan meninggalkan kita sendirian. Tamat sudah riwayat kita.
Di sisi lain, jika kita tidak mempercayai siapa pun, kita akan mati kelaparan karena tidak mungkin berburu mamut sendirian.
Otak manusia purba kita dihadapkan pada sebuah kebuntuan evolusioner. Kita butuh sebuah mekanisme. Kita butuh semacam jembatan untuk menyeberangi lautan rasa curiga bawaan kita. Otak kita butuh sebuah tombol "izin untuk percaya".
Di sinilah neuroscience memberikan jawaban yang sangat elegan.
Jauh di dalam otak kita, ada sebuah struktur berbentuk kacang almond bernama amygdala. Ini adalah alarm tanda bahaya kita. Saat kita bertemu orang asing atau menghadapi peluang baru yang belum pasti, amygdala berteriak: "Hati-hati! Dia bisa saja menipumu!"
Rasa takut ini sangat wajar. Itu insting bertahan hidup. Tetapi, jika amygdala dibiarkan berkuasa penuh, kita tidak akan pernah mau bekerja sama dengan siapa pun.
Tepat saat alarm itu berbunyi keras, otak kita melepaskan sebuah hormon penyeimbang. Namanya oksitosin.
Banyak majalah populer menyebut oksitosin sebagai "hormon pelukan" atau "hormon cinta". Label itu tidak salah, tapi terlalu menyederhanakan fungsinya. Bagi para ilmuwan saraf, oksitosin adalah sesuatu yang jauh lebih strategis. Ia adalah molekul pengambil risiko sosial. Ia adalah mata uang biologis dari rasa percaya.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana tepatnya setetes bahan kimia ini bisa mengubah rasa takut menjadi sebuah kesepakatan bisnis, atau proyek kreatif yang brilian?
Inilah keajaiban sesungguhnya. Oksitosin bertindak seperti peredam suara bagi amygdala.
Saat oksitosin mengalir dalam darah kita, hormon ini menurunkan tingkat kecemasan sosial. Ia berbisik kepada otak kita, "Tenang saja, orang ini sepertinya aman. Coba beri dia kesempatan."
Seorang neuroeconomist bernama Paul Zak pernah melakukan eksperimen yang mengubah cara kita memandang bisnis dan kolaborasi. Ia menemukan bahwa ketika seseorang secara sukarela memberikan kepercayaannya kepada kita—misalnya mendelegasikan tugas penting atau meminjamkan uang—kadar oksitosin di otak kita melonjak tajam.
Dan tahukah teman-teman apa yang terjadi selanjutnya? Lonjakan oksitosin itu membuat kita merasa sangat dihargai. Secara biologis, kita terdorong kuat untuk membalas kepercayaan tersebut. Kita bekerja lebih keras. Kita tidak ingin mengecewakan mereka.
Ini adalah sebuah siklus timbal balik yang luar biasa. Rasa percaya memicu oksitosin. Oksitosin memicu rasa empati dan kerja sama. Kerja sama menciptakan peluang baru yang sebelumnya tertutup rapat oleh rasa curiga.
Tanpa oksitosin, tidak akan ada yang namanya networking. Tidak akan ada kolaborasi antar perusahaan. Tidak ada tim olahraga yang solid. Oksitosin adalah lem tak kasat mata yang menyatukan ide-ide kita menjadi sebuah kenyataan.
Dunia modern sering kali mengajarkan kita untuk menjadi sinis. Kita diajari untuk selalu waspada, menjaga jarak, dan berasumsi buruk tentang niat orang lain demi melindungi diri sendiri.
Tentu, bersikap kritis itu sangat penting. Otak rasional kita tetap harus menimbang risiko. Namun, ilmu saraf mengingatkan kita pada satu fakta indah: secara biologis, kita dirancang untuk saling terhubung. Kita didesain untuk saling percaya.
Jika saat ini teman-teman sedang mencari peluang baru, atau ingin membangun sebuah kolaborasi yang bermakna, mungkin langkah pertamanya bukanlah menyusun kontrak yang kaku.
Mungkin langkah pertamanya adalah mengambil risiko kecil untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain terlebih dahulu.
Saat kita mengambil inisiatif untuk percaya, kita sebenarnya sedang menyalakan sakelar oksitosin di otak orang tersebut. Kita tidak hanya sedang bersikap baik. Kita sedang melakukan semacam peretasan biologi (biological hack) untuk membuka pintu kolaborasi yang tulus.
Mari kita ingat kembali. Nenek moyang kita tidak bertahan hidup dengan cara saling mencurigai. Mereka bertahan dan berkembang karena mereka memilih untuk percaya. Hari ini, pilihan yang sama, dan molekul yang sama, masih ada di dalam diri kita.